Liputan6.com, Jakarta – Merek-merek barang mewah global menghadapi penurunan penjualan yang semakin dalam di China. Hal ini seiring dengan upaya China mengenakan pajak atas kekayaan yang disimpan di luar negeri. Langkah ini berdampak luas mulai dari pasar saham hingga lantai kasino, dan menekan pengeluaran konsumen terkaya di China.
Mengutip the Star, Senin, (24/8/2026), penjualan 25 merek barang mewah terbesar di China turun lebih dari 10% pada Juli, menurut data dari tiga perusahaan riset yang disurvei oleh Bloomberg.
Angka ini lebih buruk dibandingkan perlambatan yang terjadi pada Juni, sekaligus menandai perubahan drastis dari kinerja bisnis yang sempat sangat kuat pada awal tahun ini.
Merek-merek di bawah naungan LVMH seperti Louis Vuitton dan Dior, serta merek-merek Kering SA seperti Gucci, Bottega Veneta, dan Balenciaga, semuanya mencatat penurunan penjualan dua digit. Sementara itu, kinerja Hermès berbalik dari pertumbuhan menjadi penurunan. Pertumbuhan Chanel dan Prada juga melambat secara signifikan, menurut perusahaan-perusahaan riset tersebut.
Bagi raksasa barang mewah global, penurunan ini menambah ketidakpastian terhadap prospek bisnis di salah satu pasar terpenting mereka.
China pernah menjadi motor penggerak pertumbuhan industri barang mewah selama beberapa dekade, tetapi persaingan untuk memikat pembeli terkaya kini semakin ketat, sementara konsumen kelas menengah mulai mengurangi pengeluaran di tengah perlambatan ekonomi negara tersebut.
Penurunan ini terjadi bersamaan dengan upaya besar-besaran China untuk membendung arus keluar modal dan memulihkan penerimaan pajak, termasuk melalui pengendalian yang lebih ketat terhadap perdagangan saham lintas batas serta kewajiban bagi warga negara untuk membayar pungutan bernilai miliaran dolar AS atas aset luar negeri dan keuntungan investasi.
Source link


