Liputan6.com, Jakarta – Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengatakan pengenaan pajak terhadap pembalut 11 persen dari harga jual merupakan kebijakan bias gender.
Pengenaan pajak tersebut dinilai belum mempertimbangkan kebutuhan khusus perempuan terkait kesehatan reproduksi yang mana produk menstruasi, seperti pembalut, bukanlah pilihan gaya hidup atau kebutuhan mewah, melainkan kebutuhan esensial.
“Pengenaan pajak terhadap produk menstruasi merupakan kebijakan yang bias gender karena tidak mempertimbangkan kebutuhan khusus perempuan dalam pemenuhan hak kesehatan reproduksinya,” kata Wakil Ketua Komnas Perempuan, Dahlia Madanih.
Dahlia mengatakan dengan jumlah penduduk perempuan yang besar, negara seharusnya menghadirkan kebijakan yang memastikan akses perempuan terhadap kebutuhan kesehatan reproduksi. “Bukan justru menambah beban ekonomi atas kebutuhan biologis yang tidak dapat dihindari,” tegasnya dalam keterangan tertulis diterima Jumat (30/11/2026).
Dahlia menekankankan kebutuhan terhadap produk menstruasi tidak terbatas pada pembalut selama masa menstruasi. Produk pembalut juga dibutuhkan perempuan usai melahirkan, mengalami perdarahan, maupun keguguran. Kebutuhan tersebut penting untuk menjaga kesehatan reproduksi dan harus dapat diakses secara layak serta terjangkau.
Pada 2025, Komnas Perempuan juga pernah menyoroti bagaimana kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dapat menambah beban ekonomi perempuan. Hal ini terutama perempuan berpenghasilan rendah yang juga memikul tanggung jawab dalam mengelola kebutuhan rumah tangga.
Pengalaman perempuan di wilayah kepulauan memperlihatkan bahwa kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dapat berdampak pada pemenuhan berbagai kebutuhan dasar. Hal ini berlaku juga termasuk produk kebersihan menstruasi, layanan kesehatan reproduksi, dan pendidikan anak.
Komisioner Komnas Perempuan, Devi Rahayu, menambahkan bahwa produk menstruasi merupakan kebutuhan rutin yang tidak bersifat elastis. Perempuan tidak dapat memilih untuk tidak menstruasi, sementara kemampuan membeli produk menstruasi sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi. Oleh karena itu, pengenaan pajak terhadap produk tersebut berpotensi memperberat beban perempuan, khususnya kelompok berpenghasilan rendah.
Maka dari itu, Komnas Perempuan mendorong Kementerian Keuangan, untuk meninjau kembali pengenaan PPN atas produk menstruasi dan mempertimbangkan pembebasan pajak atas produk tersebut. Baik melalui pengecualian dari objek PPN maupun skema PPN ditanggung pemerintah. Komnas tersebut juga mengajak para pembuat kebijakan untuk memastikan kebijakan fiskal disusun dengan memperhitungkan dampaknya terhadap perempuan, sehingga tidak menambah hambatan bagi perempuan dalam memenuhi kebutuhan biologis dan menjaga kesehatan reproduksinya.
Source link










