044002400_1614227023-tax-planning-concept-with-wooden-cubes-calculator-blue-table-flat-lay_176474-9519.jpg

Ramai Soal Pajak Pembalut 11% di Medsos, Ini Penjelasan DJP

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan tengah menyiapkan 30 lembaga keuangan, termasuk perbankan dan fintech sebagai pemungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas transaksi digital luar negeri. Saat ini, DJP masih terus mengalkulasi potensi penerimaan negara dari kebijakan tersebut.

Direktur Jenderal Pajak Kemenkeu, Bimo Wijayanto, memberi batas waktu hingga November 2026 bagi ke-30 platform tersebut untuk bergabung ke dalam Sistem Pemungutan Pajak atas Transaksi Digital Luar Negeri (SPP-TDLN).

“Yang bergabung baru lima platform bank dan satu platform fintech. Tadi pagi, saya baru berkoordinasi dengan 30 platform lain yang akan ikut, dan kita berikan waktu sampai November,” kata Bimo di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (15/10/2026).

DJP juga berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) guna mendorong keterlibatan para penyelenggara pembayaran digital.

“Kami meminta bantuan OJK dan Bank Indonesia untuk mendorong para issuer—baik bank, fintech, hingga Mastercard dan Visa agar siap go live dengan SPP-TDLN sebelum November,” terangnya.

Pada tahap awal, enam entitas terdaftar sebagai pemungut resmi, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Fintek Karya Nusantara (LinkAja).

 


Source link

003045000_1731476528-1.jpeg

Hashim Djojohadikusumo Sebut Ekonomi Indonesia Rp 10.000 Triliun Belum Tercatat

Liputan6.com, Jakarta – Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia Hashim Djojohadikusumo menyebut, sekitar 30%–40% aktivitas ekonomi Indonesia belum tercatat, dengan nilai diperkirakan mencapai Rp 10.000 triliun. Pemerintah berupaya meningkatkan penerimaan negara melalui digitalisasi perpajakan untuk memperluas pemungutan pajak atas transaksi ekonomi.

Hashim mengatakan, potensi ekonomi yang belum tercatat tersebut dapat memperkuat kapasitas fiskal Indonesia apabila pemerintah mampu meningkatkan kepatuhan pajak dan memperbaiki pengawasan penerimaan negara.

“Menurut Bank Dunia, kurang lebih 35%–40% kegiatan ekonomi di Indonesia tidak tercatat,” ujar Hashim dalam Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

“Berarti ada kurang lebih Rp 10.000 triliun yang tidak tercatat,” lanjutnya.

Hashim menilai, rendahnya penerimaan negara dibandingkan produk domestik bruto (PDB) menunjukkan besarnya ruang untuk meningkatkan penerimaan pajak. Ia menyebut rasio penerimaan negara Indonesia masih sekitar 12% dari PDB tercatat, lebih rendah dibandingkan Kamboja sebesar 18% dan Vietnam sebesar 23%.

Menurut Hashim, peningkatan rasio penerimaan negara hingga setara Kamboja berpotensi menambah penerimaan sekitar Rp 1.500 triliun per tahun. Ia menilai pemerintah perlu memperkuat kapasitas aparat pajak dan bea cukai agar potensi tersebut dapat direalisasikan.

Pemerintah juga menyiapkan digitalisasi pemungutan pajak dengan memanfaatkan teknologi informasi dan kecerdasan buatan. Hashim menyebut kebijakan pajak digital akan melibatkan bank pemerintah, bank swasta, serta perusahaan teknologi finansial (fintech).

“Tujuan kita adalah Indonesia dalam 2–3 tahun akan sampai setara dengan Kamboja,” kata Hashim.

 


Source link

013031200_1790564633-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-28T100252.716.jpg

Kumpulan Hoaks terkait Pajak, Simak Daftar dan Faktanya

Liputan6.com, Jakarta – Hoaks terkait dengan pajak beredar media sosial. Salah satu di antaranya, hoaks Polri akan melakukan razia pajak kendaraan ke rumah-rumah warga.

Lalu apa saja hoaks yang berkaitan dengan pajak? Simak daftar dan faktanya berikut ini:

1. Cek Fakta: Hoaks Zulhas Sebut Tugas Rakyat Hanya Bayar Pajak Bukan Campuri Urusan Pemerintah

Tim Cek Fakta Liputan6.com menemukan kembali postingan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menyebut tugas rakyat hanya membayar pajak bukan ikut campur urusan pemerintah. Postingan itu beredar sejak pekan lalu.

Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook pada 26 September 2026.

Dalam unggahannya terdapat foto Zulkifli Hasan dengan narasi:

“Zulkifli hasan: tugas rakyat itu hanya membayar pajak bukan ikut campur urusan pemerintah“

Akun itu menambahkan narasi:

“Zulkifli hasan: tugas rakyat itu hanya membayar pajak, bukan ikut campur urusan pemerintahan.”

Lalu benarkah postingan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut tugas rakyat hanya membayar pajak bukan ikut campur urusan pemerintah? Simak penelusuran berikut ini…

2. Cek Fakta: Hoaks Polri Bakal Razia Pajak Kendaraan ke Rumah Warga Mulai September 2026

Cek Fakta Liputan6.com menemukan klaim Polri bakal melakukan razia pajak kendaraan ke rumah warga mulai September 2026. Klaim itu beredar di Facebook sejak Minggu, 13 September 2026.

Dalam unggahan tersebut terdapat poster dengan narasi sebagai berikut:

“Pengumuman Penting & Resmi

Penertiban dan pemeriksaan kendaraan bermotor akhir September 2026 razia rumah ke rumah

– Kendaraan non pajak: Masa berlaku STNK/ Pajak mati

– Kendaraan sengketa kredit: Masih dalam sengketa pembiayaan bank/ finance

– Kendaraan STNK only: Tanpa kelengkapan BPKB resmi-

– Kendaraan over kredit ilegal: Dipindahtangankan tanpa sepengatahuan finance

Tim gabungan polisi & pihak finance akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan tegas

Dihimbau pada masyarakat

1. Lakukan pelunasan pajak anda segera

2. Lengkapi dokumen dan selesaikan tunggakan kredit sebelum pemeriksaan.”

Akun itu menambahkan narasi:

“Kami dirumah cuma punya motor STNK only…. Sudah tentu kami tidak bisa bayar pajak😁😁. Apakah dikerinci bisa terapkan??? Tagih Pajak kendaraan rumah kerumah / dor to dor😁😁.

#pajak #polreskerinci #semuaorang #kerinci #reels @sorotan“.

Lalu benarkah klaim Polri bakal razia pajak kendaraan ke rumah warga mulai September 2026? Simak penelusuran berikut ini…

3. Cek Fakta: Hoaks Bahlil akan Kenakan Pajak Oksigen bagi Masyarakat

Tim Cek Fakta Liputan6.com menemukan klaim Menteri ESDM Bahlil Lahadalia akan mengenakan pajak bagi masyarakat yang menghirup oksigen di luar rumah. Postingan itu beredar sejak pekan lalu.

Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 7 Agustus 2026.

Dalam unggahannya terdapat foto Bahlil dengan narasi:

“Bahlil: Oksigen itu milik Negara. Masyarakat yg menghirup oksigen Di luar rumah akan dikenakan pajak“.

Akun itu menambahkan narasi:

“Pajakin semua pak“

Lalu benarkah klaim Menteri ESDM Bahlil Lahadalia akan mengenakan pajak bagi masyarakat yang menghirup oksigen di luar rumah? Simak penelusuran berikut ini…


Source link

1793157723_000993500_1793003285-IMG-20261026-WA0019.jpg

Kasus Mekanik Ditagih Pajak McLaren, Lakukan Ini Saat Data Pribadi Anda Dicuri

Liputan6.com, Jakarta – Pakar keamanan siber Vaksincom, Alfons Tanujaya menduga, adanya kelemahan verifikasi dan pengawasan data diri pembelian mobil mewah di Indonesia.

Hal ini belajar dari kasus Yudariansyah, mekanik bengkel yang tiba-tiba namanya tercatut menunggak pajak mobil mewah McLaren hingga Rp 137 jutaan di Samsat Ciledug.

“Ini sih lebih ke verifikasi yang lemah, kita semua memang tahu data sudah bocor. Tapi kalau mendaftarkan mobil sekelas McLaren dan bisa diloloskan dgn KTP saja harusnya dipertanyakan sistem verifikasinya,” ungkap Alfons, Rabu (28/10/2026).

Dia pun menduga adanya kemungkinan data bocor dan tak dilakukan cek kembali di biro jasa penyedia layanan. Ditambah tidak adanya pengawasan dari sistem pendaftaran kendaraan.

Makanya, Alfons menyarankan agar pihak korban yang datanya disalahgunakan tersebut, untuk melaporkan ke pihak berwenang. Agar bisa ditindaklanjuti dan diselidiki kenapa penyalahgunaan data ini bisa terjadi.

“Buat laporan ke polisi atas penyalahgunaan, lalu gunakan PDP dan Samsat untuk mencabut pendaftaran tersebut,” katanya.

Lalu, dari sisi Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil juga harus bisa meningkatkan kontrol dan bisa memberikan informasi kalau KTP kita sudah digunakan untuk keperluan apa saja.

Lalu, Identitas Kependudukan Digital (IKD) seharusnya juga bisa dilengkapi fitur yang bisa diakses masyarakat agar bisa mengecek langsung apakah data dirinya disalahgunakan atau tidak.

“Sehingga kalau ada penyalahgunaan bisa diidentifikasi dan dilaporkan. Di IKD harusnya fitur ini menjadi fitur utama yang diberikan ke masyarakat untuk melakukan kontrol penyalahgunaan data kependudukan,” tuturnya.


Source link

033143800_1597034591-olga-delawrence-5616whx5NdQ-unsplash.jpg

Usulan Pajak Miliarder di California Hadapi Tantangan

Sejumlah pengusaha teknologi, termasuk pendiri Google Sergey Brin, pendiri DoorDash Tony Xu, salah satu pendiri Stripe Patrick Collison, serta sejumlah investor modal ventura, termasuk John Doerr, Michael Moritz, dan Vinod Khosla, ikut menentang pajak tersebut.

Profesor bisnis dan kebijakan publik di Haas School of Business, University of California, Francesco Trebbi, menyoroti pengaruh kekayaan terhadap proses politik.

“Ini membuat Sergey Brin memiliki suara politik yang jauh lebih besar,” kata Trebbi.

“Ini adalah Sergey Brin melawan jutaan warga California. Hal ini membuat orang kehilangan kepercayaan terhadap sistem,” ia menambahkan.

Meski Partai Demokrat California mendukung usulan pajak itu, Gubernur Gavin Newsom menolaknya. Kandidat gubernur dari Partai Demokrat, Xavier Becerra, bersama mantan anggota Kongres Katie Porter juga menentang kebijakan tersebut.

Newsom menyebut rancangan pajak itu “disusun dengan buruk”. Ia memperingatkan kebijakan tersebut bisa merugikan California apabila para miliarder memindahkan tempat tinggal mereka keluar negara bagian. Menurut para pengusul kebijakan, total kekayaan para miliarder yang menjadi sasaran pajak diperkirakan mencapai US$ 2,3 triliun atau Rp 41.694 triliun.

Sementara, kelompok penentang mendukung dua usulan lain. Salah satunya, pelarangan pajak negara bagian baru atas properti pribadi atau pajak yang berlaku surut. Usulan lainnya meminta auditor negara bagian menilai dampak keuangan suatu kebijakan pajak sebelum pemungutan suara. Jika kedua usulan itu disetujui dengan suara lebih banyak daripada Proposition 40, pajak miliarder dapat digagalkan meskipun memperoleh suara mayoritas.

 


Source link

000993500_1793003285-IMG-20261026-WA0019.jpg

DPR Soroti Kasus Montir Dicatut Jadi Pemilik McLaren

Sebelumnya, Yudariansyah, mekanik bengkel yang tinggal di sebuah perkampungan Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, kaget ketika didatangi Unit Pelaksana Teknis Daerah Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (UPTD Samsat) Ciledug. Dia tiba-tiba ditagih pajak supercar McLaren Seri 570S AT ratusan juta.

Padahal, Yuda tak pernah memiliki unit mobil tersebut. Dia menduga data pribadinya telah dicatut. Temuan ini masih didalami pihak Samsat.

Informasi didapat Kantor Samsat Ciledug, mobil mewah itu merupakan kendaraan mutasi dari Bekasi ke Ciledug, Kota Tangerang.

“Mobil tersebut mutasi dari Bekasi masuk ke Ciledug pada Oktober 2022. Jadi kalau sekarang unitnya di mana, belum tahu. Karena dia aset bergerak,” ujar Plt Kepala Samsat Ciledug, Idam Kholid, Selasa (27/10/2026).

Setelah mutasi tersebut, pemilik mobil diduga menggunakan identitas palsu saat bertransaksi karena sempat membayar pajak kendaraan selama dua tahun berturut-turut.

“Kalau normalnya, pajak kendaraan tersebut kurang lebih Rp 67 jutaan,” katanya.

Namun pada tahun 2025, pemilik tak lagi membayar pajak. Sehingga, tercatat menunggak pajak 1 tahun dan tagihan 1 tahun berjalan di tahun 2026. Tagihannya pun mencapai Rp 137,4 juta.

“2 tahun kurang lebih Rp 137 jtaan. Saat ini dari sisi administrasi kendaraannya sudah blokir,”ujar Idam.

McLaren Seri 570S AT tersebut juga tidak lagi memiliki surat-surat resmi. Hal tersebut dipastikan akan mempengaruhi saat proses jual beli maupun dalam keseharian.

“Kemarin bang Yuda sudah ke sini (Kantor Samsat Ciledug) untuk minta pemblokiran tersebut,”katanya.

 


Source link

080334700_1793012071-IMG-20261026-WA0021.jpg

Mekanik Kaget Ditagih Pajak Rp137 Juta, Samsat Curigai Leasing dan Showroom

Saat ditanya mengenai kronologi kepemilikan KTP, Yuda mengaku tidak pernah meminjamkan atau menyerahkan identitas pribadinya kepada siapapun untuk pembelian kendaraan.

​”Melihat kondisinya kami percaya Pak Yudariansyah dicatut namanya oleh pihak tidak bertanggung jawab, orang jalan menuju rumah beliau saja sempit untuk dilalui mobil,” ujarnya.

Oleh karena itu, Samsat bakal terus mengejar para pemilik asli kendaraan super mewah guna menuntaskan kewajiban pajak daerah. Temuan yang terjadi tersebut akan kembali ditelusuri untuk mengantisipasi lebih banyak warga yang dirugikan atas perbuatan pihak tidak bertanggung jawab.

​”Pasti kami bakal telusuri lagi semua data kendaraan yang masih menunggak, tetap kita harus kejar baik atas nama pribadi maupun perusahaan,”ujarnya. ​ Sementara, Kasie Humas Polres Metro Tangerang, Kompol Gunawan mengatakan, pihak Polsek Pinang membenarkan adanya penagihan melalui surat pemberitahuan.

“Saat ini sudah dilakukan pemblokiran di Samsat Ciledug terkait penggunaan namanya. Rencana akan dilaporkan ke Polres terkait penggunaan identitas tanpa izin tersebut,”ujar Gunawan.


Source link

025418900_1753969652-Gemini_Generated_Image_pok85upok85upok8.jpg

Korea Selatan Pertimbangkan Tunda Pajak Kripto 22% hingga 2029

Berdasarkan skema yang telah dijadwalkan, keuntungan bersih tahunan dari investasi kripto yang memenuhi ketentuan dan melebihi 2,5 juta won Korea Selatan akan dikenai pajak gabungan sebesar 22%.

Tarif tersebut terdiri dari pajak penghasilan nasional sebesar 20% dan pajak penghasilan daerah sebesar 2%.

Sebagai ilustrasi, investor yang memperoleh keuntungan bersih kena pajak sebesar 10 juta won dalam setahun dapat mengurangi penghasilan tersebut dengan batas pengurangan dasar 2,5 juta won. Dengan demikian, nilai kena pajaknya menjadi 7,5 juta won dan pajak terutang sebesar 1,65 juta won.

Namun, penerapan pajak menjadi lebih rumit ketika aset berpindah antara bursa domestik, platform luar negeri, dan dompet kripto pribadi.

Bursa domestik seperti Upbit, Bithumb, dan Coinone beroperasi dalam kerangka regulasi Korea Selatan. Otoritas dapat mengakses informasi nasabah dan catatan transaksi melalui mekanisme pelaporan serta permintaan informasi yang berlaku.

Sebaliknya, bursa asing belum tentu memberikan informasi dengan tingkat akses yang sama kepada otoritas pajak Korea Selatan, khususnya jika beroperasi di luar sistem perizinan domestik.

Perbedaan tersebut berpotensi membuat transaksi investor di bursa lokal lebih mudah diawasi dibandingkan transaksi di luar negeri. Meski demikian, kewajiban pajak warga Korea Selatan tidak otomatis hilang ketika mereka bertransaksi melalui platform asing.


Source link

013999500_1791360580-Depositphotos_140827350_L.jpg.jpeg

Jangan Tertukar, Ini Perbedaan BPHTB dan PBB-P2 di Jakarta

Liputan6.com, Jakarta – Kepemilikan tanah dan bangunan membawa sejumlah kewajiban perpajakan yang perlu dipahami masyarakat. Ketika seseorang membeli rumah, menerima hibah, maupun memperoleh properti melalui warisan, terdapat ketentuan pajak daerah yang dapat mengikuti proses perolehan hingga kepemilikannya.

Di Jakarta, dua jenis pajak daerah yang berkaitan erat dengan tanah dan bangunan adalah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) serta Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2). Meski sama-sama berkaitan dengan properti, keduanya memiliki objek, mekanisme pemungutan, hingga waktu terutang yang berbeda. Secara sederhana, BPHTB berkaitan dengan perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan, sedangkan PBB-P2 berkaitan dengan bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi maupun badan.

Ketentuan mengenai keduanya antara lain diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. BPHTB timbul ketika seseorang atau badan memperoleh hak atas tanah dan/atau bangunan. Perolehan tersebut tidak hanya berasal dari transaksi jual beli, tetapi juga dapat terjadi melalui tukar-menukar, hibah, hibah wasiat, waris, pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lain, pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan, penggabungan maupun peleburan usaha, pemekaran usaha, hadiah, serta bentuk perolehan hak lainnya sesuai ketentuan. Artinya, kewajiban BPHTB tidak hanya perlu diperhatikan ketika seseorang membeli rumah.

Masyarakat yang memperoleh tanah atau bangunan melalui hibah maupun warisan juga perlu memastikan apakah perolehan tersebut termasuk objek BPHTB serta apakah terdapat pengecualian atau fasilitas perpajakan yang dapat dimanfaatkan. Hal yang sama berlaku bagi masyarakat yang membeli rumah pertama. Kepemilikan rumah pertama tidak serta-merta berarti seseorang pasti dikenakan BPHTB, tetapi juga tidak otomatis membuatnya terbebas dari kewajiban tersebut.

Perda Provinsi DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2024 memberikan ruang pengecualian terhadap objek BPHTB tertentu. Salah satunya adalah perolehan hak oleh masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang memenuhi kriteria sesuai peraturan perundang-undangan. Karena itu, kewajiban BPHTB perlu dilihat berdasarkan jenis perolehan hak, nilai perolehan, kondisi Wajib Pajak, serta ketentuan pengecualian maupun fasilitas yang berlaku.

Tarif BPHTB 5 Persen, Begini Cara Menghitungnya

Untuk perolehan hak yang merupakan objek BPHTB dan tidak memperoleh pengecualian, tarif BPHTB di DKI Jakarta ditetapkan sebesar 5 persen. Penghitungannya menggunakan Nilai Perolehan Objek Pajak setelah memperhitungkan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) sesuai ketentuan. Dengan demikian, besarnya BPHTB tidak sekadar diperoleh dengan mengalikan tarif pajak terhadap harga transaksi. Dasar pengenaan serta NPOPTKP sesuai jenis perolehan hak juga perlu diperhitungkan. Setelah hak atas properti diperoleh, masyarakat juga perlu memperhatikan kewajiban PBB-P2.

PBB-P2 merupakan pajak atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau badan. Karena itu, BPHTB dan PBB-P2 merupakan dua jenis pajak yang berbeda dan tidak saling menggantikan. Jika BPHTB berkaitan dengan peristiwa memperoleh hak, maka PBB-P2 berkaitan dengan kondisi ketika seseorang atau badan memiliki, menguasai, dan/atau memanfaatkan objek tanah dan bangunan yang menjadi objek pajak. Tidak seluruh tanah dan bangunan, namun, otomatis menjadi objek PBB-P2.

Perda Nomor 1 Tahun 2024 mengatur sejumlah pengecualian, antara lain terhadap objek yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan, dan pertambangan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Pengecualian tersebut berarti objek dimaksud dikecualikan dari PBB-P2 sebagai pajak daerah. Sektor tertentu tetap dapat memiliki pengaturan perpajakan tersendiri sesuai kewenangan pemerintah pusat.

 


Source link

038612600_1777521061-whatsapp-image-2026-04-28-at-09-23-20.jpeg

Tiket Pesawat Terancam Makin Mahal

Liputan6.com, Jakarta – Lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) yang menyentuh US$ 4,90 per galon atau setara US$ 206 per barel kini kian menjepit industri penerbangan global.

Maskapai raksasa dunia terpaksa memangkas proyeksi laba tahunan mereka karena penyesuaian harga tiket pesawat sekalipun dinilai tak lagi sanggup menutup lonjakan biaya operasional.

Para pakar dan pengamat penerbangan pun memperingatkan bahwa harga avtur berpotensi terus meroket hingga menembus angka US$ 225 hingga US$ 250 per barel jika konflik Iran tak kunjung mereda.

Artikel mengenai harga avtur dan tiket pesawat ini menjadi salah satu berita yang banyak dibaca. Selain itu masih ada sejumlah berita lain yang menarik untuk disimak.

Lengkapnya, berikut ini tiga artikel terpopuler di kanal bisnis Liputan6.com pada Senin (26/10/2026):

1. Harga Avtur Pecah Rekor, Tiket Pesawat Terancam Makin Mahal

Lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) kian menjepit industri penerbangan global. Berdasarkan data Argus US Jet Fuel Index, harga avtur menyentuh US$ 4,90 per galon atau setara US$ 206 per barel (sebagai catatan, 1 barel minyak setara dengan 42 galon AS). Angka ini menjadi rekor tertinggi sejak konflik di Iran meletus pada akhir Februari lalu.

Sejak perang pecah, harga avtur tercatat membengkak hingga 96%, hampir dua kali lipat dari harga normal. Para pengamat penerbangan bahkan memperkirakan tren kenaikan ini masih akan berlanjut hingga tahun depan.

Cek berita selengkapnya di sini

 


Source link